Kamis, 15 Oktober 2009

Lomba Nge-Blog di Ultah Kompasiana

Maunya sih ikut lomba menulis artikel di Blog Kompasiana, tapi apa daya aku tak mampu. Hanya ini yang bisa kutulizzz.........

Lebih sepuluh tahun lalu saya sempat antipati sama koran bernama Kompas. Setelah nge-kost sama orang-orang dengan referensi bacaan koran Kompas di Banda Aceh akhir tahun 90 an, saya mulai mengenal konten koran Kompas.
Maaf, tulisan ini tidak akan ngomong tentang koran Kompas tapi sekedar me-flashback awal mula saya kenal.
Setelah familiar dengan koran Kompas, saya mulai akrab dengan turunan dari Kompas, yang tidak salah lagi, yaitu Blog Kompasiana.
Belum setahun saya menikmati tulisan dan aneka komentar di Kompasiana tetapi bila sehari ngga membuka Kompasiana terasa ada yang ngga lengkap. Karena sifatnya komunitas terbuka maka Kompasiana menjadi kumpulan berbagai kalangan yang masing-masing memberi warna tersendiri dalam tulisannya. Ada yang dari militer, wartawan, politikus, artis dan orang biasa.
So, apa pendapat saya mengenai Kompasiana selama ini?
Sudah menjadi watak bagi sebagian dari kita, Kompasiana pun akan mengikuti ke mana arah angin menuju. Saat ramai-ramainya musim kampanye Pemilu, Kompasiana riuh rendah menjadi ajang kampanye bagi para simpatisan parpol dan kandidat. Sampai-sampai ada admin Kompasiana yang terbawa angin (tidak netral) dan ikut menggiring pembaca untuk mengikuti angin tersebut.
Saat tema seksualitas dimunculkan oleh salah seorang penulis, berbondong-bondong penulis lain ikut mengangkat tema seputar kenikmatan syahwat. Dan tema seperti ini yang justru memperoleh hint paling banyak. Tema lain yang biasanya langsung populer (dan itu biasanya yang diinginkan para kontributor di Kompasiana) adalah tema-tema kontroversial, gosip dan agama.
Terakhir, agar forum Kompasiana tetap terjaga kesehatannya, sudah saatnya para admin lebih sigap apabila ada tulisan-tulisan yang tidak sesuai kode etik dan menyalahi norma kemasyarakatan.


EmoticonEmoticon