Minggu, 07 Maret 2010

Identitas Bangsa yang Mulai Hilang

Seseorang yang pernah menghabiskan meski sebagian kecil hidupnya di desa, bolehlah berbangga. Karena orang tersebut pasti merasakan kehidupan yang jauh dari hiruk pikuk ‘kemodernan’ kota dan kehidupan yang sungguh mencerminkan watak asli orang Indonesia yang sering dibanggakan, yaitu ramah, solider, bertenggang rasa, dan memiliki ikatan sosial yang kuat.
Boleh saja pernyataan di atas dibantah dengan fakta bahwa kehidupan desa kini sudah tidak kalah ‘kerasnya’ dengan di kota. Memang benar, ritme kehidupan kota sudah mulai merambah ke banyak pelosok desa, tidak lain karena arus informasi yang begitu deras membanjiri sudut-sudut rumah warga melalui televisi. Konten informasi media yang buruk telah meracuni dan mengubah pola pikir dan perilaku warga sehingga mereka berkiblat pada informasi baru yang mereka dapat melalui televisi.
Tayangan kekerasan, pornografi dan hedonisme telah merasuki relung kehidupan semua orang. Dengan beragam latarbelakang pendidikan, pemikiran dan pengetahuan, mereka memperoleh informasi yang sama. Sayangnya tidak semua orang memiliki filter yang cukup dalam menyaring tayangan atau informasi yang sangat deras dan terus menerus tersebut. Akibatnya tidak sedikit anggota masyarakat yang mentah-mentah menyerap dan meniru apa yang diperolehnya tersebut. Masyarakat menjadi sakit dan beban sosial yang ditanggung tidaklah sedikit. Pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, penculikan, pemaksaan kehendak, dan lain-lain adalah konsekuensi dari tayangan yang bertujuan semata pada pencapaian rating tanpa mempertimbangkan resiko publik, dan dilakukan secara terus menerus. Bila ada pendapat bahwa masyarkat sudah dewasa dalam menerima informasi, tapi fakta di lapangan banyak yang menunjukkan sebaliknya.


Sekarang hampir setiap hari ada berita tentang kekerasan, mulai dari pemerkosaan, penculikan, pencurian, perampokan, penganiayaan, dan pembunuhan. Para remaja pun mulai mengenal seks dalam arti negative yang lebih dini. Akibatnya virus HIV merebak dengan cepat, hubungan seksual pra nikah yang sudah umum, kehamilan remaja yang tinggi dan aborsi yang meningkat. Belum lagi kehidupan glamor dan sikap hidup hedonis para selebriti membuat sebagian masyarakat meniru dengan melakukan cara-cara yang instan melalui berbagai audisi yang bila tidak hati-hati malah akan membawa kesengsaraan.
Kekerasan yang terus ditayangkan di televise dalam liputan terkait drama di DPR yang dilakukan oleh aparat keamanan dan para demonstran adalah refeleksi tidak berdayanya masyarakat dalam menyaring informasi yang mereka dapatkan. Mereka meniru bahwa menyampaikan pendapat dilakukan dengan memaksakan kehendak. Para demonstran di Makassar, sebagaimana diberitakan dalam headline berbagai media, adalah contoh dari tidak terjalinnya komunikasi yang baik dan tidak adanya sikap saling menghormati.
Demonstrasi dengan kekerasan di tempat lain sebagai rasa solidaritas di Makassar lebih mempertegas dari apa yang disinyalir dalam tulisan ini. Bahwa ikatan-ikatan sosial di masyarakat sudah mulai pudar tergerus arus informasi negatif yang massif.
Mereka menonton televisi dan meniru apa yang dilihatnya tanpa memfilter mana yang layak dan tidak untuk dilakukan. Bila ini terus menerus terjadi tanpa ada upaya konkret dari pihak berwenang, jangan lagi Indonesia mengklaim sebagai negara atau bangsa yang ramah dan memiliki rasa sosial yang tinggi.


EmoticonEmoticon