Minggu, 04 Juli 2010

Akhirnya, Bank Swiss Bisa Ditembus Juga


'Keankeran' bank di Swiss yang sudah puluhan tahun terjaga, akhirnya 'pecah' juga. Bank UBS Swiss termasuk diantara bank di Swiss yang sangat menjaga kerahasiaan data nasabahnya, luluh juga oleh pihak pajak Amerika atau IRS (Internal Revenue Servis). Hal ini berkat bersiulnya (whistle blower) bekas karyawan bank tersebut. Berkat siulan Bradley Birkenfeld, mantan karyawan UBS, pihak Bank UBS bersedia memberikan data nasabah Amerika yang menyimpan dananya di sana ke institusi pajak Amerika dan mau membayar denda sebesar $ 780 juta ke pihak IRS Amerika (Majalah Tempo, 28 Juni-4 Juli 2010).

Semua berawal ketika Bank UBS melakukan ekspansi ke AS dan mencari nasabah kaya di sana. Kepintaran marketing UBS mampu menggaet setidaknya 4700 nasabah kaya dari AS yang memiliki aset $18 milyar. Tapi, bukan tanpa imbalan bila nasabah kaya dari AS ini mau dibujuk untuk menyimpan dananya di Bank UBS.

Kompensasi yang diberikan oleh Bank UBS adalah membantu para nasabah AS untuk mengemplang pajak. Dan itu terjadi selama tahun 2000 hingga 2007.

Upaya pengemplangan pajak oleh para warganya melalui bank asing akhirnya terendus juga oleh aparat IRS. Inilah bukti kejelian IRS, melalui whistle blower karyawan bank itu sendiri. Kesuksesan IRS memaksa Bank UBS untuk membayar ratusan juta dollar ke pemerintah AS dan memberikan data ribuan nasabah kaya, juga menunjukkan kehebatan dan kewibawaan institusi pajak AS.
Bayangkan, sebuah institusi perbankan yang telah ratusan tahun dikenal di dunia dengan kerahasiaannya, luluh oleh institusi pajak negara lain.

Bagaimana dengan institusi pajak di Indonesia? Saya yakin Direktorat Jenderal Pajak Republik Indonesia (Ditjen Pajak) belum memiliki kewibawaan sebagaimana dimiliki oleh IRS. Jangankan melobi bank di Swiss agar memberikan info nasabah Indonesia yang menaruh uang di sana, bank dalam negeri Indonesia saja belum tentu akan memberikan data nasabahnya bila diminta oleh pihak Ditjen Pajak.

Menjadi PR besar bagi Ditjen Pajak agar institusinya dihargai oleh pihak lain, terlebih saat ini nama Ditjen Pajak sedang tercoreng dengan munculnya beberapa kasus korupsi yang dilakukan oleh beberapa oknum pajak.



EmoticonEmoticon