Rabu, 09 Februari 2011

Kekerasan Temanggung, Pengalihan Isu?

Baru sehari usai kekerasan yang melibatkan masyarakat di satu sisi dengan pengikut Ahmadiyah di sisi lain yang terjadi di desa Cikeusik, Pandeglang dan menewaskan tiga orang dari pihak Ahmadiyah, meletus lagi kekerasan di Temanggung. Kekerasan ini dipicu oleh tindak penistaan agama Islam yang dilakukan oleh Antonius Richmond Bawengan, warga Jakarta yang singgah di Temanggung dan vonis hakim. Antonius dituduh telah menyebarkan tulisan yang berisi menghina agama Islam.

Akibatnya, banyak umat Islam di Temanggung yang tidak terima dengan penghinaan ini. Puncaknya, dilakukan usai sidang di Pengadilan Negeri Temanggung yang memvonis 5 tahun penjara bagi pelaku penghinaan. Karena tidak puas dengan putusan hakim, masyarakat memprotes dengan caranya sendiri.

Gedung Pengadilan Negeri dirusak, beberapa motor dan mobil dibakar, termasuk sebuah mobil dalmas Polri, serta tiga buah gereja menjadi korban amukan.

Yang menjadi pertanyaan, apakah 'onar' massa itu terjadi secara spontan atau digerakkan?

Sebagai orang Banyumas, saya merasakan psikologi dan karakter warga Temanggung tidak beda dengan kebanyakan warga di daerah sekitarnya. Mereka santun, tepa selira, dan memiliki rasa sosial yang tinggi. Sehingga saya melihat tidak mungkin warga Temanggung akan begitu beringas sampai merusak benda-benda yang ada di jalanan termasuk rumah ibadah agama lain. Atau karakter itu sudah berubah seiring perubahan zaman yang kian terbuka akan nilai-nilai dari luar sana? Atau juga ada pihak lain yang menggerakkan dengan memprovokasi massa untuk tujuan-tujuan tertentu?

Salah seorang yang curiga adanya skenario kerusuhan Temanggung adalah Goenawan Mohamad, wartawan senior Tempo. Melalui Twitter-nya, GM menulis
"Banten, Temanggung...Mafia Hukum di luar kepolisian memberi aba2: "Siapa yg ganggu kami tak akan selamat di th 2014 - atau sebelumnya." http://twitter.com/gm_gm?max_id=35160539839598593&page=2&twttr=true

Dalam perkembangannya, tidak hanya GM yang berprasangka bahwa kerusuhan ini telah direncanakan tetapi beberapa orang (tokoh) juga berprasangka demikian. Hal ini tidak lain bertujuan untuk mengalihkan isu. Saat ini yang menjadi fokus pemberitaan adalah upaya KPK untuk mengungkap jaringan mafia hukum dan mafia pajak.

Masyarakat percaya bahwa bila KPK mulai melakukan penyidikan, maka akan bisa diungkap siapa di balik mafia pajak dan hukum. Sehingga bila hal ini dibongkar akan ada orang kuat yang ditangkap. Karena itu disusunlah skenario kerusuhan di sana sini agar perhatian masyarakat (dan mungkin juga KPK) beralih.


EmoticonEmoticon