Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2012

Bukti Ilmiah Manfaat Sedekah

Kita sering mendengar seorang ustadz berbicara mengenai pentingnya shadaqah atau sedekah (atau derma, donasi, sumbangan atau apapun namanya). Kenapa sedekah itu penting? Karena sedekah dapat menolak berbagai macam bala bencana, dapat menjadi obat berbagai macam penyakit, akan diberkahi hartanya (si pemberi sedekah), hartanya tidak berkurang malah bertambah, dan lainnya.

Benarkah manfaat sedekah sedemikian banyak? Apakah bisa dibuktikan?

Saya tertarik membaca bukunya Ippho Santosa yang berjudul, “ 7 Keajaiban Rezeki”. Di salah satu halamannya, Ippho Santosa menuliskan hasil penelitian dari beberapa ahli mengenai manfaat sedekah atau apapun namanya.

Berikut saya tuliskan kembali manfaat sedekah berdasarkan penelitian para ahli dari bukunya Ippho Santosa.

Brenda Borell di majalah ilmiah Nature edisi Maret 2008 menuliskan, “Uang dapat membeli kebahagiaan, terutama ketika Anda membagi-bagikannya”.

Dr. Stephen Post di bukunya menyimpulkan, "Sifat dermawan itu menyehatkan dan memanjangkan umur. Bahkan dua kali lebih menyehatkan daripada aspirin".

Sejalan dengan Hadits:

" Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani)"

Elizabeth Dunn di risetnya menyimpulkan, "Membelanjakan uang terhadap orang lain mendorong kebahagiaan".

Prof. David Mc Clelland di risetnya menyimpulkan, "Melakukan sesuatu yang positif terhadap orang lain memperkuat sistem kekebalan tubuh".

James House di risetnya menyimpulkan, "Menolong orang lain secara sukarela meningkatkan kebugaran tubuh dan angka harapan hidup".

Allan Luks di bukunya menyimpulkan, "Menolong orang lain dapat mengurangi sakit, mengurangi stress, meningkatkan endorfin, dan meningkatkan kesehatan". Ini berdasarkan survei yang melibatkan 3.000 sukarelawan dan lebih dari 90 persen mengaku demikian.

Semoga bermanfaat......






Kamis, 18 Agustus 2011

Tips Menjaga Harmoni Rumah Tangga Versi Ratih Sanggarwati

Baru saja iseng-iseng browsing, eh ketemu tips yang cukup menarik dari seorang Ratih Sanggarwati. Tips apakah itu? Yaitu tips menjaga harmoni rumah tangga. Karena menurut saya cukup menarik, maka saya republish tips tersebut di blog ini. Apa tips menjaga keharmonisan rumah tangga menurut Ratih Sanggarwati? (tips ini layak untuk diresapi karena berasal dari seorang ibu rumah tangga yang telah membina keluarga selama 15 tahun tanpa gosip miring)

Ini dia....silakan disimak saja.

Tips Harmonis Ratih Sanggarwati, Tak Tahu Gaji Suami

Kehidupan rumah tangga artis model Ratih Sanggarwati dan Isman Budisepta Zen 'nyaris' tanpa masalah atau gosip-gosip tak sedap menerpa rumah tangganya. Kini usia perkawinannya sudah 15 tahun, dan dikaruniai 3 orang anak. Apa kiatnya hingga bisa bertahan?

"Saya memiliki kiat sederhana, saya hanya tidak mau tahu berapa penghasilan suami saya dan suami saya pun tidak mau tahu berapa penghasilan saya," ungkap Ratih Sanggarwati, usai menjadi juri Pasangan Sakinah di Bidakara, Jakarta Selatan, Senin (15/8/2011)

Kuncinya, menurut Ratih saling percaya berapa nilai penghasilan yang diperoleh, dan tidak saling curiga. Dari rasa curiga dan tidak percaya dalam hal urusan uang, bisa muncul ketidakharmonisan yang bisa menjadi celah pertengkaran.

"Itu sebenarnya memperkecil resiko saja. Resiko untuk membuat kekhawatiran yang berlebihan dan mencegah kecemburuan. Kuncinya seperti itu, jadi kalau saling pengertian, saling cinta itu semua bisa ambruk karena uang," ungkapnya.

Pantaslah akhirnya, Kantor Kementrian Agama mempercayai artis kelahiran Ngawi, Jawa Timur 48 tahun lalu itu sebagai juri Pasangan Sakinah untuk kedua kalinya. Ratih bersama beberapa juri lain, dipercaya menentukan Pasangan Sakinah dari 32 pasangan dari seluruh Indonesia.

Sumber:
Yahoo.com

Kamis, 07 Oktober 2010

Jangan Gunakan Fasilitas Allah SWT

Seorang laki-laki datang tergopoh-gopoh menemui Ibrahim bin Adham untuk mengadukan permasalahan yang tengah menimpanya. Lelaki tersebut berkata, ''Wahai sahabatku, aku ingin mengadukan sesuatu tentang diriku yang berlumur noda dan dosa. Berjudi adalah pekerjaan sehari-hariku yang sangat sulit aku tinggalkan. Kemudian, berzina dan mabuk menjadi aktivitas yang tidak aneh dalam kehidupan sehari-hariku, bahkan aku akan sangat tersiksa jika satu hari dalam hidupku terlewati tanpa melakukan perbuatan maksiat tersebut.''

Ibrahim bin Adham adalah seorang yang terkenal dengan kezuhudan dan kesalehannya, pun berkata kepada sahabatnya, ''Semoga Allah memberi hidayah dan menerangi kembali jalan hidupmu. Jika engkau ingin meninggalkan segala maksiat yang selama ini engkau lakukan bertobatlah dan bertekadlah untuk meninggalkan perbuatan tersebut.''

Tak lama kemudian lelaki tersebut kembali menemui Ibrahim bin Adham dan kembali mengadukan permasalahan yang sama, dia berkata, ''Aku telah berusaha meninggalkan segala perbuatan maksiat yang aku lakukan dengan mengikuti apa yang telah engkau nasihatkan kepadaku, namun ternyata itu semua tak berhasil.''

Ibrahim bin Adham dengan bijak berkata, ''Jika engkau ingin bermaksiat kembali, perhatikanlah nasihatku. Pertama, jika kamu mau bermaksiat kepada Allah, jangan memakan rezeki-Nya. Kedua, carilah tempat yang luput dari pantauan Allah. Ketiga, janganlah menggunakan pancaindera dan anggota tubuh amanat dari Allah. Keempat, bermaksiatlah, jika engkau siap menghadapi Malaikat Munkar dan Nakir. Kelima, teruskan maksiat, jika engkau sanggup melawan malaikat penjaga api neraka.''

Ia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Lalu menangis dan dengan wajah penyesalan berkata, ''Ibrahim cukup, jangan kamu teruskan lagi. Mulai saat ini aku bertobat kepada Allah.''

Semenjak itu, setiap kali lelaki tersebut ingin melakukan maksiat, dia pun teringat pada nasihat yang diberikan sahabatnya. Hari-hari selanjutnya, lelaki tersebut telah menemukan kembali jalan hidupnya dan memperbanyak hari-harinya dengan amal shalih hingga menemui ajalnya.

Sumber:
Lautan Hikmah

Sabtu, 04 September 2010

Sebuah Kisah yang akan Dialami Semua


Di bawah ini adalah sebuah kisah fiksi, tetapi meski fiksi, cerita dalam kisah ini akan dialami oleh semua orang. Apa itu? Kematian! Berikut kisah selengkapnya.........

Seperti biasa saya sehabis pulang kantor tiba di rumah langsung duduk bersantai sambil melepas penat. Sepertinya saya sangat enggan untuk membersihkan diri dan langsung shalat.

Sementara anaki-anak & istri sedang berkumpul di ruang tengah. Dalam kelelahan tadi, saya disegarkan dengan adanya angin dingin sepoi-sepoi yang menghembus tepat di muka saya.

Selang beberapa lama seorang yang tak tampak mukanya berjubah putih dengan tongkat ditangannya tiba-tiba sudah berdiri di depanku.

Saya sangat kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba itu. Sebelum sempat bertanya.... .siapa dia...tiba-tiba saya merasa dada saya sesak... sulit untuk bernafas.... namun saya berusaha untuk tetap menghirup udara sebisanya.

Yang saya rasakan waktu itu ada sesuatu yang berjalan pelan-pelan dari
dadaku...... terus....... berjalan.... .kerongkonganku. ...sakittttttttt ........sakit. ..... rasanya. Keluar airmataku menahan rasa sakitnya,... . Oh Tuhan ! ada apa dengan diriku.....

Dalam kondisi yang masih sulit bernafas tadi, benda tadi terus memaksa untuk keluar dari tubuhku...
kkhh........ .khhhh... .. kerongkonganku berbunyi. Sakit rasanya, amat teramat sakit
Seolah tak mampu aku menahan benda tadi... Badanku gemetar... peluh keringat mengucur deras.... mataku terbelalak.. ...air mataku seolah tak berhenti.

Tangan & kakiku kejang-kejang sedetik setelah benda itu meninggalkan aku. Aku melihat benda tadi dibawa oleh orang misterius itu...pergi. ..berlalu begitu saja....hilang dari pandangan.

Namun setelah itu......... aku merasa aku jauh lebih ringan, sehat, segar, cerah... tidak seperti biasanya.

Aku heran... istri & anak-anakku yang sedari tadi ada di ruang tengah, tiba-tiba terkejut berhamburan ke arahku.. Di situ aku melihat ada seseorang yang terbujur kaku ada tepat di bawah sofa yang kududuki tadi. Badannya dingin kulitnya membiru. siapa dia???????.. . Mengapa anak-anak & istriku memeluknya ! sambil menangis... mereka menjerit...histeris ...terlebih istriku seolah tak mau melepaskan orang yang terbujur tadi...

Siapa dia......... ....????? ???

Betapa terkejutnya aku ketika wajahnya dibalikkan.. .. dia........dia. ......dia mirip dengan aku....ada apa ini Tuhan...???? ????

Aku mencoba menarik tangan istriku tapi tak mampu..... Aku mencoba merangkul anak-anakku tapi tak bisa. Aku coba jelaskan kalau itu bukan aku.

Aku coba jelaskan kalau aku ada di sini.. Aku mulai berteriak... ..tapi mereka seolah tak mendengarkan aku seolah mereka tak melihatku...

Dan mereka terus-menerus menangis.... aku sadar..aku sadar bahwa orang misterius tadi telah membawa rohku....aku telah mati...aku telah mati.

Aku telah meninggalkan mereka ..tak kuasa aku menangis.... berteriak. .....

Aku tak kuat melihat mereka menangisi mayatku. Aku sangat sedih.. selama hidupku belum banyak yang kulakukan untuk membahagiakan mereka. Belum banyak yang bisa kulakukan untuk membimbing mereka.

Tapi waktuku telah habis....... masaku telah terlewati... . aku sudah tutup usia pada saat aku terduduk di sofa setelah lelah seharian bekerja.

Sungguh bila aku tahu aku akan mati, aku akan membagi waktu kapan harus bekerja,
beribadah, untuk keluarga dll.

Aku menyesal aku terlambat menyadarinya. Aku mati dalam keadaan belum ibadah.

Ohh Tuhan, jika Engkau ijinkan keadaanku masih hidup dan masih bisa membaca kisah ini sungguh aku amat sangat bahagia.

Karena aku MASIH mempunyai waktu untuk bersimpuh, mengakui segala dosa & berbuat kebaikan sehingga bila maut menjemputku kelak aku telah berada pada keadaan yang lebih siap.

Semoga bermanfaat.........

Rabu, 25 Agustus 2010

Sebuah Renungan: Akhir Yang Berbeda


Cerita ini saya ambil dari sebuah milis yang saya terima beberapa tahun yang lalu. Cerita ini sungguh mengharukan. Silakan disimak...

Tatkala masih dibangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri :
"Alangkah sabarnya mereka...setiap hari begitu...benar-benar mengherankan!
"Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk munajat kepada Allah.

Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku.

Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.
Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur'an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan,tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.

Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.
Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian ... banyak waktu luang ... pengetahuanku terbatas.

Aku mulai jenuh ... tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain.

Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos jalan.
Kami asyik ngobrol ... tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis.

Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan.

Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah "Laailaaha Illallaah ... Laailaaha Illallaah .." perintah temanku. Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.

Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat ...
Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini.

Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat.
Tetapi ... keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya ... Suara lagunya terdengar semakin melemah ... lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua.
Tak ada gerak ... keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun.

Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening...
Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara.Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su'ul khatimah (kesudahan yang buruk).
Ia berkata "Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk..
Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia.

"Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.

Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu' sekali.

Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali pada kebiasaanku semula ... Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala.

Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan !.
Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu .... sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama cepat-cepat menuju tempat kejadian.
Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan. Dia masih sangat muda, wajahnya begitu bersih.Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.

Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ... dengan suara amat lemah.
"Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu.

Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur'an seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian "Aku akan menuntunnya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu ... apalagi aku sudah punya pengalaman." aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur'an yang merdu itu.

Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang.
Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang.
Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku.

Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan..Sampai di rumah sakit .....Kepada orang-orang di sana, kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan.

Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata.

Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin ikut menyolatinya.

Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya.
Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.

Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil.

Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. hanya ada satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan.

Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan amal-amal yang nyata : "memperbaiki diri dan mengajak orang lain "

Allah Swt berfirman:
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Al-Imran:185)

Rasulullah Saw telah mengingatkan dalam sabdanya, "Barangsiapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya."
Saudaraku Siapa yang tau kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita menemui tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah SWT.
Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian dalam waktu-waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan untuk menghadapinya.

note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.
Begitulah hendaknya engkau nasehati dirimu setiap hari karena engkau tidak menyangka mati itu dekat kepadamu bahkan engkau mengira engkau mungkin hidup lima puluh tahun lagi, Kemudian engkau menyuruh dirimu berbuat taat, sudah pasti dirimu tidak akan patuh kepadamu dan pasti ia akan menolak dan merasa berat untuk mengerjakan ketaatan.

Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri, dan saudara-saudaraku seiman pada umumnya.

Minggu, 22 Agustus 2010

Obama Terlahir Sebagai Seorang Muslim


Makin tinggi pohon, makin kencang angin menerpa. Itulah perumpamaan yang tepat bagi siapa saja yang menduduki jabatan tinggi, tidak terkecuali presiden AS, Barrack Hussein Obama. Obama adalah presiden kulit hitam pertama sepanjang sejarah berdirinya negara Amerika Serikat.

Sebagai pemimpin tertinggi, presiden Barrack Obama telah beberapa kali dikritik dan diserang habis-habisan oleh partai oposisi. Bahkan yang lebih ekstrem, percobaan pembunuhan telah beberapa kali dibongkar oleh dinas rahasia AS.

Kini, isu yang dihembuskan untuk menggoyang Obama adalah isu SARA yang mempertanyakan agamanya. Menurut survey, lebih seperlima warga AS percaya bahwa Obama adalah muslim. Tapi, upaya penggoyangan Obama melalui isu agama ini jelas bukan isu yang sensitif mengingat negara AS adalah negara sekuler yang tidak mencampuri urusan keyakinan individu warga negara. Jadi tidak akan berpengaruh terhadap posisinya sebagai presiden.Tidak seperti di Indonesia yang bisa membuat seseorang 'terhenti di tengah jalan' gara-gara hembusan isu SARA.

Mengenai isu yang sedang menerpa Obama, berikut saya nukilkan berita dari situs eramuslim.com.

Pemimpin Evanjelis Franklin Graham, anak Billy Graham - seorang pendeta Kristen legendaris, mengatakan Presiden Barack Obama "lahir sebagai seorang Muslim", karena agama adalah "melewati benih dari ayah," dalam wawancara dengan CNN hari Jumat lalu.

Graham menawarkan penjelasan mengapa orang secara keliru percaya Presiden Obama adalah seorang Muslim. Komentar ini disampaikan dalam menanggapi survei Pew Research Center yang baru-baru ini dirilis yang menunjukkan hampir satu dari lima warga AS meyakini Obama adalah seorang Muslim.

Graham mengatakan kepada CNN:

"Ia (Obama) dilahirkan sebagai seorang muslim. Ayahnya adalah seorang Muslim dan benih Islam melewati ayah seperti benih Yudaisme dilewatkan melalui ibu.

"Ia dilahirkan sebagai seorang muslim; ayahnya memberinya nama Islam," catat penginjil Billy Graham menegaskan pernyataannya.

"Namun jelas bahwa presiden telah meninggalkan Islam ... presiden mengatakan ia adalah seorang Kristen, dan kami harus menerimanya sebagai itu."

Penginjil Franklin Graham adalah seorang penginjil fanatik kristen, pernyataan-pernyataanya sering kali melecehkan Islam dan membuat marah umat Islam AS.

Dalam sebuah wawancara televisi di tahun 2009, Graham mengatakan kepada CNN: "Saya tidak setuju dengan ajaran Islam dan saya menemukan bahwa agama Islam merupakan agama kekerasan."

Pada tahun 2002, Graham mengatakan, terorisme adalah bagian dari "mainstream" Islam dan menyatakan Al-Quran, mengungkapkan ajaran-ajaran kekerasan.

Minggu, 27 Juni 2010

Western Style Selalu Menjadi Rujukan?


Dalam segala hal, bangsa yang tidak percaya diri atau merasa inferior, sering menjadikan Barat (western) selalu menjadi rujukan dalam segala hal. Dari pakaian, pergaulan atau gaya hidup, cara bicara, makan sampai hal yang remeh temeh, kamar mandi! Semua sah-sah saja selama tidak mengeliminasi nilai-nilai asli ketimuran kita yang sangat menjunjung tinggi etika, moral dan sopan santun. Tapi saya tidak akan menuliskan hal-hal terkait nilai-nilai ketimuran versus nilai Barat. Saya hanya akan berfokus pada pengaruh western style yang sudah masuk sampai di kamar mandi! Dalam bentuk apa? itu yang saya tulis di sini.

Di akhir tahun 70-an saat masih kecil, saya dan banyak warga pedesaan di Banyumas (dan saya yakin hampir semua daerah di Indonesia) menggunakan sungai sebagai sarana MCK (Mandi Cuci Kakus). Sampai saat ini pun mungkin masih banyak yang menggunakannya. Saat itu debit air sungai masih besar, jumlah penduduk juga belum sebanyak sekarang, sehingga kebersihan air sungai cukup terjaga meski warga menggunakannya sebagai MCK.

Awal tahun 80-an, mulai banyak orang membuat kolam-kolam ikan di pinggir sungai (memanfaatkan air dari sungai) di mana kakus (WC) dibuat di kolam tersebut. Di dalam WC disediakan pancuran air yang terus mengalir (bersumber dari air sungai). Adanya WC di kolam ikan memberi dua manfaat, jumlah orang yang buang air besar di sungai menjadi berkurang sehingga 'polusi' air sungai berkurang, dan kedua, WC tersebut merupakan sumber makanan bagi ikan sehingga pemilik kolam ikan tidak perlu susah payah mencari umpan.

Evolusi ke tiga tempat buang hajat di desa adalah di saat warga mulai membangun kamar-kamar mandi di rumah sendiri. Biasanya warga yang membangun kamar mandi dan WC di rumah sendiri adalah warga yang tingkat ekonominya cukup mapan. Karena biaya untuk membangunnya, dari kacamata orang desa, cukup besar. Pertama, harus menggali sumur yang biasanya dilakukan oleh khusus tukang gali. Kedua, bila sumur sudah keluar airnya, diperlukan mesin pompa air agar tidak repot bila dilakukan dengan timba manual. Ketiga, harus membangun kamar mandi itu sendiri plus WC dan kolam pembuangan air. Sudah umum bila setiap kamar mandi disediakan bak air (karena bukan sistem shower atau bathtub). Sehingga air ditampung di bak mandi. WC yang digunakan adalah WC jongkok, bukan duduk.

Evolusi keempat tentang buang hajat saya alami ketika suatu saat saya berada di sebuah hotel berbintang. Di hotel tersebut WC nya model duduk. Bagi yang tidak terbiasa, akan memaksakan untuk jongkok di atas WC duduk karena sulit menyesuaikan. Model seperti ini juga sudah banyak diadopsi oleh banyak gedung tinggi di kota-kota besar.

Ada hal yang lebih mengejutkan saya ketika saya menginap di sebuah hotel bintang empat di suatu kota. Sebagaimana umumnya, di kamar mandi tidak ada bak mandi. Kran air juga hanya untuk washtafel. Jadi mandinya dengan dengan cara berendam di bathtub. Fasilitas WC nya cuma tisu dan semprotan air sebesar sedotan (ngirit banget tuh) yang terletak tepat di belakang (maaf) pantat bila kita duduk di closet tersebut. Sekali lagi, bila tidak terbiasa dengan model seperti itu, bisa-bisa hajat buang air besarnya ditahan-tahan sampai pulang ke rumah.

Sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah model seperti itu mengadopsi dari mana dan untuk siapa? Menurut saya model seperti itu jelas mengambil gaya Barat. Tapi tidak semua pengguna hotel adalah orang Barat bukan? Pasti mayoritas adalah orang Indonesia dan mayoritas juga orang Islam yang menggunakan hotel tersebut.

Karena dalam Islam dituntuk kebersihan dan kesucian, maka model WC yang serba 'minimalis' alias ngirit akan kurang menjamin kesucian dalam bersuci setelah buang hajat. Terlebih bila di WC hanya disediakan tisu saja. Kamar mandi yang tidak dilengkapi dengan kran air juga menyulitkan orang Islam yang akan berwudlu. Karena itu, idelanya semua bangunan atau gedung megah serta hotel-hotel tetap memberikan fasilitas atau kemudahan bagi orang Islam dalam menjalankan kewajibannya.